oleh

Mengenal Sejarah, KH. Ahmad Hanafiah Pahlawan Asal Kabupaten Bumei Tuwah Bepadan

Editor : Deki Hasrofi.

OKEYBOZ.COM, LAMPUNG TIMUR – Bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November ini adalah, momen untuk kita mengenang jasa para Pahlawan kita. Keberadaan kita sekarang dalam keadaan yang merdeka dari segala penjajahan, ini tentu merupakan hasil dari kerja keras dari para pahlawan yang sangat berjasa membela negara tercinta, pada Kamis (10/11/2022).

Dikutip dari berbagai sumber referensi,
Kabupaten Lampung Timur juga dikenal dengan sebutan Kabupaten “Bumei tuwah bepadan”, di Kabupaten ini juga memiliki sejarah panjang dalam perjuangan melawan penjajah salah tokoh pejuang asal Kabupaten Bumei tuwah bepadan yakni KH. Ahmad Hanafiah.

KH. Ahmad Hanafiah adalah, seoang Pejuang Kemerdekaan, sekaligus ulama berpengaruh dari Kota Sukadana, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.

KH. Ahmad Hanafiah lahir pada tahun 1905 di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Tengah. Wilayah tersebut sekarang dimekarkan menjadi Kabupaten Lampung Timur. KH. Ahmad Hanafiah adalah putra sulung KH. Muhammad Nur, pimpinan Pondok Pesantren Istishodiyah di Sukadana yang menjadi pondok pesantren pertama di Provinsi Lampung.

Semasa hidupnya, KH. Ahmad Hanafiah telah berjuang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dari cengkeraman penjajah di tanah Lampung. Ia pernah mengenyam Pendidikan Pemerintahan di Daerahnya Sukadana.

Ia belajar agama Islam kepada Ayahnya, juga pernah belajar di sejumlah pondok pesantren di Luar Negeri, seperti di Malaysia dan Mekah maupun Madinah. Semenjak umur 5 Tahun, KH. Ahmad Hanafiah sudah khatam membaca al-Qur’an.

Ayahandanya adalah, sosok ulama besar yang lama menimba ilmu di Tanah Suci. Kegemaran menuntut ilmu sang Ayah rupanya menurun kepada sosok KH. Ahmad Hanafiah.

Hal ini terbukti, pada jejak kehidupan selanjutnya, setelah sempat mengabdi menjadi guru Agama Islam dari tahun 1920-1925, KH. Ahmad Hanafiah melanjutkan pendidikan ke Pesantren Kelantan Malaysia, dari tahun 1925-1930.

Tidak cukup di Kelantan, usai menuntaskan pelajarannya di Negeri Jiran, dia pun melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke Mekah. Namun, KH. Ahmad Hanafiah tidak langsung mencapai Mekah, dalam perjalanan menuju Tanah Suci, Ia singgah di India dan mendalami ilmu tarekat.

Ia sampail di Tanah Suci pada Tahun 1930, selanjutnya ia menuntut ilmu di Masjidil Haram hingga Tahun 1936.

KH. Ahmad Hanafiah telah menunjukkan kepemimpinannya sejak belia, jiwa itu terus ada dan berkembang dalam dirinya. Bahkan saat belajar di Tanah Suci, hal itu dibuktikan dengan kemampuannya selama 2 Tahun menjadi Ketua Himpunan Pelajar Islam Lampung di Kota Mekah, Arab Saudi.

Di Mekah, KH. Ahmad Hanafiah tidak hanya kuliah, tetapi juga mengajar ilmu pengetahuan Agama Islam di Masjidil Haram pada Tahun 1934-1936.

Sekembalinya ke Indonesia, ia aktif sebagai mubaligh di Lampung dan menjadi Ketua Serikat Dagang Islam (SDI) di wilayah Kawedanan Sukadana Tahun 1937-1942. Kepiawaiannya mengatur organisasi bukan hanya di tingkatan konsep, melainkan juga manajemen yang rapi hingga ke akar rumput.

Konsep Serikat Dagang Islam diterapkannya, bersama umat Islam di Sukadana dengan mengelola usaha-usaha akar rumput, usaha mebel, home industry sabun, bahkan rokok kretek pun digalakkannya. Selain itu, KH. Ahmad Hanafiah juga mengelola lembaga pendidikan. Dia adalah seorang ulama yang bukan hanya sibuk di bidang keilmuan, melainkan diterapkan dalam praktik dengan mendampingi masyarakat sekitar menumbuhkan ekonomi. Berbagai upaya membuat teknologi pertanian pun dilakukan.

KH. Ahmad Hanafiah juga sosok ulama yang produktif, dalam menghasilkan karya-karya yang abadi hingga kini masih terjaga, yaitu kitab Al-Hujjah dan kitab tafsir Ad-Dohri. Kedua kitab ini adalah bukti intelektualitas sang ulama yang diwariskan untuk generasi selanjutnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *